El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya <p>El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Madiun</p> <p>ISSN 2527-631X (Online)</p> en-US <p><span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Persyaratan yang harus dipenuhi oleh penulis sebagai berikut:</span></span></span></p> <ol type="a"> <li><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak naskah publikasi pertama bersamaan dengan berlisensi di bawah&nbsp; </span></span><a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Lisensi Creative Commons Attribution</span></span></a><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;yang memungkinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan pernyataan kepenulisan pekerjaan dan publikasi awal di jurnal ini.</span></span></li> <li> <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Penulis dapat masuk ke dalam penyusunan kontrak tambahan terpisah untuk distribusi non-eksklusif versi kaya isu jurnal (misalnya: posting ke sebuah repositori institusi atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan publikasi awal di jurnal ini.</span></span></p> </li> <li> <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Penulis diperbolehkan dan didorong untuk mengirim karya mereka secara online (misalnya, dalam repositori institusi atau website mereka) sebelum dan selama proses pengajuan, karena dapat menyebabkan pertukaran produktif, serta kutipan sebelumnya dan lebih parah dari karya yang diterbitkan. </span><span style="vertical-align: inherit;">(lihat&nbsp; </span></span><a href="http://opcit.eprints.org/oacitation-biblio.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Pengaruh Open Access</span></span></a><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> ).</span></span></p> </li> </ol> <p><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by-sa/4.0/88x31.png" alt="Lisensi Creative Commons"></a></p> <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Karya ini dilisensikan di bawah&nbsp; </span></span><strong><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">CC BY-SA</span></span></a></strong></p> jurnalelwasathiya@gmail.com (Anis Hidayatul Imtihanah) nafiwildan@gmail.com (Wildan Nafi'i) Wed, 07 Nov 2018 15:15:05 +0000 OJS 3.1.0.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PAKAIAN SEBAGAI PENANDA: KONTRUKSI IDENTITAS BUDAYA DAN GAYA HIDUP MASYARAKAT JAWA (2000-2016) http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3547 <p><strong>Abstrak:</strong> Pakaian merupakan identitas, budaya, gaya hidup dan tindakan sadar atau tidak sadar telah membentuk startifikasi sosial dalam lapisan sosial. Pakaian menunjukka pada seluruh cara penggunaan barang, jasa dan hiburan dimana ekspektasi soasial yang menentukan pilihan-pilihan individual secara terus-menerus berubah dan diharapkan untuk berubah. Sebagaimana yang terjadi pada warga masyarakat Yogyakarta. Pakaian yang digunakan pada kelompok-kelompok masyarakat yang pada awalnya masih mengidentifikasi budaya masa lalu dengan identitas-identitas masa lalu pula. Namun seiring perkembangan zaman, dan masuknya arus globalisasi dan modernisasi serta adanya dampak reformasi yang menggema dalam relung-relung masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Yogyakarta memberikan angin segar terhadap pembaharuan budaya yang ada. Tidak hanya masyarakat umum yang berubah, di masyarakat kraton pun mulai merubah budaya yang berkembang. Sandi-sandi budaya kraton mulai beralih kepada modernitas. Pakaian yang dikembangkan pun lebih menunjukkan gaya hidup seorang masyarakat yang modern. Determinasi sosial atas makna budaya kraton diambil alih, sehingga tanda dan simbol-simbol serta identitas-identitas sebuah pakaian beredar tanpa logika apapun. Akibat ketidakbermaknaan tersebut bukanlah kekacaun yang menakutkan sebagaimana yang kita kira, tetapi malahan “mempesonakan” mata-mata kaum konsumen dalam halunisasi kesopanan. Dampak dari itu semua adalah lahirnya deferensiasi nilai-nilai kesopanan yang ada di masyarakat sendiri. Mereka mencoba membuat standarisasi baru dalam hal kesopanan. Kedua, budaya identifikasi dan daya tarik seksual dalam budaya konsumsi tersebut tentunya melahirkan sebuah keinginan untuk mengejar hedonismer semata dan menyebabkan citra rasa dan selera menjadi sesuatu hal yang penting.</p> <p><strong>K</strong><strong>ata kunci: </strong>Peradaban, Pakaian, Identitas Budaya.</p> Muhammad Misbahuddin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3547 Tue, 12 Feb 2019 08:30:49 +0000 TEORI DASAR PENELITIAN AGAMA DAN CAKUPAN ILMU AGAMA (W.B. SIDJABAT) http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3548 <p><strong>Abstak</strong><strong>: </strong>Cakupan ilmu agama itu sangat luas tergantung bagaimana mengartikan agama itu sendiri. Menurut Sidjabat, banyak sarjana dalam bidang ilmu agama masih belum menemukan suatu pengertian yang bersifat universal. Artinya definisi tentang agama masih belum menemukan suatu kesepakatan dari berbagai agama yang ada, hal itu disebabkan kebanyakan para ahli menekankan pada aspek sosialnya dan melihat agama timbul dari pergaulan sesama manusia. Menurut Sidjabat arti kata Agama adalah tidak kacau dan pada dasarnya berfungsi dan bertujuan sebagai alat pengatur untuk terwujudnya integrasi hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesamanya dan alam yang mengitarinya.</p> <p><strong>Kata </strong><strong>k</strong><strong>unci: </strong>W.B. Sidjabat,Penelitian Agama, Ilmu Agama.</p> Hudan Ngisa Anshori ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3548 Tue, 12 Feb 2019 08:49:12 +0000 DAKWAH KONTEKSTUAL : MENGUNGKAP PESAN DAKWAH KHR KHOLIL AS’AD MELALUI TRADISI SABUNG AYAM DI PESANTREN WALISONGO http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3492 <p><strong>Abstrak:</strong> Dakwah Kontekstual yang dilakukan Kiai Kholil As’ad melalui tradisi sabung ayam dipesantren Walisongo adalah dakwah yang disesuaikan dengan konteks kekinian kondisi masyarakat dan dikhususkan kepada masyarakat yang gemar terhadap sabung ayam. Karena pada masyarakat tertentu yang pada dasarnya adalah orang-orang yang gemar terhadap sabung ayam tidak bisa diajak melalui dakwah biasa. Seperti yang dilakukan oleh sunan Kudus dengan menghiasi lembu karena pada jamannya mayoritas agamanya hindu budha yang memulyakan lembu/ sapi. Juga dicontohkan oleh Sunan Kalijaga yang mengajak masyarakat untuk masuk Islam menyesuaikan konteks masyarakat waktu itu melalui pertunjukan pewayangan dengan syarat yang mau masuk arena itu wajib membaca dua kalimat syahadat. Jika ingin melihat strategi dakwah para Walisongo bisa melihat cara dakwahnya Kiai Kholil As’ad dengan menyesuaikan dengan keinginan masyrakat yang jauh dari sentuhan para dai pada umumnya. Dakwah melalui sabung ayam ini sangat efektif bagi kalangan masyarakat yang gemar terhadap sabung ayam, karena diselasela prosesi sabung ayam, Kiai Kholil As’ad pelan-pelan mengenalkan Tauhid pada penggemar sabung ayam dengan cara membuat aturan yang kalah harus melakukan sholat sepuluh kali salam, bagi mereka yang sama sekali tidak paham terhadap niat dan gerakan sholat sudah ada gambar orang sholat dan praktek berwudhu’, mereka juga didampingi petugas pantau agar sholatnya sesuai dengan cara yang telah disyariatkan. Mayoritas para pecinta sabung ayam pada akhirnya insaf dan menjadi dekat dengan Kiai bahkan mereka ada yang rela mengabdikan dirinya di pesantren Walisongo.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: Dakwah KHR Kholil As’ad, Tradisi Sabung Ayam, Pesantren.</p> Mustaqim Makki ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3492 Wed, 07 Nov 2018 00:00:00 +0000 PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP WANITA KARIR http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3552 <p><strong>Abstrak</strong>: Masalah wanita telah muncul menjadi suatu masalah yang sangat penting di seluruh dunia dan sebagian besar kelompok masyarakat. Selama ini muncul anggapan bahwa wanita itu berkedudukan di bawah laki-laki dalam segala hal. Padahal, prinsip pokok ajaran Islam sesungguhnya adalah kesamaan dan kesejajaran antara pria dan wanita, apapun suka bangsanya, baik dalam hak dan kewajiban. Islam datang dengan keadilannya, tidak ada diskriminasi terhadap salah satu jenis kelamin. Yang membedakan di antara laki-laki dan wanita hanyalah ketaqwaannya. Islam datang dengan mengangkat harkat dan martabat wanita sejajar dengan kaum laki-laki dalam hal kemanusiaan. Seiring dengan berubahnya cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi kaum wanita di tengah masyarakat, saat ini banyak kaum wanita yang berkarir, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, pemerintahan bahkan kemiliteran. Namun, pengakuan sosial terhadap keterlibatan wanita ini masih sangat sulit karena faktor budaya serta keinginan masyarakat yang sangat kuat untuk mempertahankan tradisi yang sudah melekat. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam meletakkan kedudukan wanita dalam kehidupan bermasyarakat? Islam memberi hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki termasuk memberi kebebasan wanita untuk berkarir, namun harus tetap menjaga aturan-aturan yang telah ditetapkan didalam Al-Qur’an maupun Al-Sunnah.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Hukum Islam, Wanita Karir.</p> Dwi Runjani Juwita ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3552 Wed, 13 Feb 2019 11:56:09 +0000 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL BAHASA ARAB BERPERSPEKTIF GENDER BAGI SISWA KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3553 <p><strong>Abstrak: </strong>Bahan ajar merupakan salah satu komponen utama dari kurikulum. Bahan ajar yang adil dan setara bagi anak perempuan dan laki-laki sangat penting untuk menghindari terjadinya bias gender. Hasil pengamatan di MTs Negeri Kare Madiun menunjukkan bahan ajar yang digunakan terdapat pembagian peran gender yang masih tidak setara dan adil, Dampaknya dapat mendorong persepsi yang negatif dalam hubungan gender dan terhadap sikap dan motivasi belajar siswa baik perempuan maupun laki-laki. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan dan membuat bahan ajar modul bahasa Arab yang menarik, dapat dipelajari secara mandiri dan proporsional dalam menyajikan peran gender. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian <em>reseacrh and development </em>(R&amp;D) dengan tiga langkah. <em>Pertama: </em>Studi pendahuluan dengan melalui studi lapangan dan literasi. <em>Kedua: </em>Studi pengembangan dengan merancang desain&nbsp; pembelajaran sesuai karakteistik modul, desain modul dan konsep bahan ajar modul berperspektif gender untuk kemudian di validasi oleh tim ahli. <em>Ketiga:</em> Tahap hasil penerapan modul bahasa arab berperspektif gender. Hasil validasi ahli materi terhadap bahan ajar modul berperspektif gender bagi siswa kelas VII MTs Negeri Kare Madiun mendapat nilai prosentase 82% sehingga dapat dikategorikan “Sangat Baik”. Kemudian hasil validasi ahli media mendapat nilai prosentase 78% sehingga dapat dikategorikan “Baik”. Sedangkan hasil validasi ahli gender mendapat nilai prosentase 86% sehingga dapat dikategorikan “Sangat Baik”. Hasil respon guru bahasa Arab terhadap bahan ajar modul berperspektif gender bagi siswa kelas VII MTs Negeri Kare Madiun mendapat nilai prosentase 88 % sehingga dapat dikategorikan “Sangat Baik”. Sedangkan hasil respon siswa mendapat nilai prosentase 88 % atau termasuk dalam kategori “Sangat Baik”.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Bahan Ajar, Modul, Bahasa Arab, Gender.</p> Irsyad Kholis Fatchurrozaq ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3553 Wed, 13 Feb 2019 12:05:52 +0000 المحاولات في ترقية البيئة اللغوية بمعهد أولي الأبصار للطالبات بجامعة فونوروغو الإسلامية الحكومية http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3554 <p><strong>Abstrak</strong>: Pembelajaran Bahasa Arab berbeda dengan pembelajaran bahasa ibu. Diperlukan berbagai upaya supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Berbagai upaya telah dilakukan guna mewujudkan hal tersebut. Salah satumya adalah dengan membentuk lingkungan bahasa sebagaimana dilakukan oleh ma’had Ulil Abshar IAIN Ponorogo. Lingkungan bahasa diharapkan akan mempermudah pelajar dalam meningkatkan keterampilan bahasa yang dimiliki. Dan artikel ini bertujuan untuk mengupas upaya yang dilakukan oleh ma’had dalam membentuk lingkungan Bahasa Arab, kendala yang dihadapi, dan upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan lingkungan Bahasa Arab.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Lingkungan Bahasa, Bahasa Arab.</p> Aliba'ul Chusna ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3554 Wed, 13 Feb 2019 12:15:54 +0000 MANAJEMEN MUTU DARI INDUSTRI UNTUK PENDIDIKAN http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3555 <p><strong>Abstrak<em>: </em></strong>Mutu, khususnya dalam konteks <em>Total Quality Management</em> (TQM) adalah hal yang berbeda. Mutu bukan sekedar inisiatif lain. Mutu merupakan sebuah filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan eksternal yang berlebihan. Dalam dunia industri Barat, TQM adalah cara efektif untuk menghilangkan tekanan ekonomi sehingga dapat bersaing lebih baik dengan arus pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks pendidikan, para pakar berpendapat bahwa TQM sangat cocok diaplikasikan dalam dunia pendidikan, karena esensi TQM berupa perubahan budaya (<em>change of culture</em>) akan merubah budaya sebuah institusi pendidikan agar berorientasi pada kepuasan pelanggan. Proses lambat pendidikan dan tidak jelasnya standar mutu dapat dunia pendidikan akan dapat diatasi dengan <em>change of culture</em> yang secara kolektif dijalankan dan&nbsp; menjadi komitmen seluruh komponen pendidikan di suatu lembaga.</p> <p><strong>Kata</strong> <strong>Kunci</strong>: Manajemen, Mutu, Industri, Pendidikan.</p> Arif Shaifudin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3555 Wed, 13 Feb 2019 12:22:14 +0000