Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman <p>Budaya atau kebudayaan memiliki&nbsp; tiga wujud; yaitu wujud ideal, kelakuan dan&nbsp; wujud benda, wujud ketiga tersebut disebut peradaban atau wujud materialperadaban manusia. peradaban adalah wujud kebudayaan yang sudah&nbsp; berkembang dan maju. pendapat lain menyebutkan bahwa kebudayaan adalah&nbsp; sesuatu yang bersifat ideal yang dapat bercita-cita, rencana atau bahkan keinginan. sedangkan peradaban adalah apa&nbsp; yang dapat dilakukan dari&nbsp; apa yang telah dicita-citakan. <em><strong>(</strong></em><em><strong>STID Raudlatul Iman Sumenep Madura</strong></em><em><strong>)</strong></em></p> STID Raudlatul Iman Sumenep en-US Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2549-9157 <p><a href="http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/management/settings/journal">Al-Iman</a>: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan (ISSN : <a href="http://issn.lipi.go.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>2549-9157</strong></a>xx) dan (EISSN: <a href="http://issn.lipi.go.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong> 2579-3543</strong></a>xx) diterbitkan oleh Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) STID Raudlatul Iman (STIDAR) Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman Sumenep Madura. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Kajian Dakwah, Interaksi sosial. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Maret dan september</p> Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pembelajaran Lapangan: Studi Pengalaman Mahasiswa pada Pameran Matakin di Medan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8636 <p><em>This study aims to analyze the internalization of religious moderation values through field-based learning at an exhibition organized by the Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATakin) in Medan. The research employs a qualitative descriptive-reflective approach within a constructivist paradigm. The subjects consisted of six student interns who participated in the visit and interfaith dialogue with the Chairperson of MATakin Medan. Data were collected through participant observation, students’ reflective notes, documentation, and analysis of open dialogue sessions. The findings reveal that field-based learning effectively fosters both cognitive and affective transformation among students. Direct experience and dialogical interaction contributed to the reduction of stereotypes, enhancement of empathy, and strengthening of national commitment. The values of humanity and social harmony in Confucian teachings served as reflective bridges that deepened students’ understanding of religious moderation. These results indicate that the internalization of moderation values cannot rely solely on normative classroom instruction but requires contextual and dialogical engagement. Therefore, interfaith field learning may serve as a pedagogical model in higher education to reinforce social resilience and cultivate moderate character within plural societies.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis proses internalisasi nilai moderasi beragama melalui pembelajaran lapangan pada pameran yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATakin) Kota Medan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-reflektif dengan paradigma konstruktivis. Subjek penelitian terdiri atas enam mahasiswa peserta magang yang mengikuti kunjungan dan dialog lintas iman bersama Ketua MATakin Medan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan reflektif mahasiswa, dokumentasi kegiatan, serta analisis dialog terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran lapangan efektif dalam membangun transformasi kognitif dan afektif mahasiswa. Pengalaman konkret dan dialog langsung berkontribusi pada reduksi stereotip, peningkatan empati, serta penguatan komitmen kebangsaan. Nilai kemanusiaan dan harmoni dalam ajaran Konghucu menjadi medium reflektif yang memperkaya pemahaman mahasiswa tentang moderasi beragama. Temuan ini menegaskan bahwa internalisasi nilai tidak cukup melalui pendekatan normatif di kelas, melainkan memerlukan pengalaman dialogis yang kontekstual. Dengan demikian, pembelajaran lapangan berbasis dialog lintas iman dapat direkomendasikan sebagai model pedagogis dalam pendidikan tinggi untuk memperkuat ketahanan sosial dan membangun karakter moderat di tengah masyarakat plural.</p> Muhammad hazil Ali Kahar Husna Sari Ilham Ramadhan Daulay Muhammad Fadly Chaniago Gus Salza Nazwa Wiana Delviani Siti Rahma Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2026-04-28 2026-04-28 10 1 734 746 Kurikulum Pendidikan Agama Islam di era Digital Integrasi Teknologi Sebagai Solusi Pembelajaran https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8640 <p><em>This study examines the application of technology in the Islamic Religious Education (PAI) curriculum in the digital age as a way to learn. The main problem discussed is the lagging behind the traditional PAI curriculum in facing the challenges of the digital era and the minimal use of technology to improve the quality of religious teaching. The method used in this research is qualitative with a case study approach in three selected madrasas, through in-depth interviews with teachers and observations of the teaching and learning process. The findings from this research show that the use of technology such as digital Al-Qur'an applications, online learning platforms and interactive media has succeeded in increasing student participation by up to 35% and understanding of religious concepts by up to 28%. Other important findings highlight the importance of developing digital literacy for PAI teachers and the need for appropriate guidelines for the application of technology in accordance with Islamic values. This research concludes that the application of technology in the PAI curriculum can be an effective solution to increase the relevance of religious education in the digital era, noting the need for ongoing support for educators and monitoring of digital content. The results of this research encourage accelerated digitalization in the PAI curriculum while maintaining a balance between technological advances and Islamic values.</em></p> <p>Studi ini meneliti penerapan teknologi dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di zaman digital sebagai cara untuk belajar. Masalah utama yang dibahas adalah ketertinggalan kurikulum PAI tradisional dalam menghadapi tantangan era digital dan minimnya penggunaan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengajaran agama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus di tiga madrasah yang dipilih, melalui wawancara mendalam dengan para guru serta pengamatan pada proses belajar mengajar. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi seperti aplikasi Al-Qur'an digital, platform pembelajaran daring, dan media interaktif berhasil meningkatkan partisipasi siswa hingga 35% dan pemahaman tentang konsep keagamaan mencapai 28%. Temuan penting lainnya menyoroti pentingnya pengembangan literasi digital bagi guru PAI dan perlunya pedoman yang tepat untuk penerapan teknologi sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teknologi dalam kurikulum PAI dapat menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan relevansi pendidikan agama di era digital, dengan catatan perlunya dukungan berkelanjutan untuk para pendidik dan pengawasan konten digital. Hasil dari penelitian ini mendorong percepatan digitalisasi dalam kurikulum PAI sambil tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai Islam.</p> Zona Julita Rifai’i Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2026-03-05 2026-03-05 10 1 25 49 Evolusi Gerakan Sosial Keagamaan: Studi Kepustakaan Tentang Kontribusi Walubi dalam Pembangunan Masyarakat Inklusif https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8637 <p>This article examines the transformation of the Indonesian Buddhist Community Representative (Walubi) from a representative-bureaucratic entity into a socio-religious driving actor through the praxis of Engaged Buddhism. Utilizing a Systematic Literature Review (SLR) method that adapts the PRISMA protocol, this research synthesizes academic literature published from 2005 to 2026 to dissect Walubi's social maneuvers in the public sphere. The results indicate that Walubi's contribution to building an inclusive society in Indonesia manifests in three movement typologies: (1) cross-boundary health philanthropy that effectively deconstructs stereotypes of minority exclusivity; (2) disaster emergency response mobilization utilizing the liminality phase to weave communal solidarity; and (3) nonviolent structural diplomacy within the Religious Harmony Forum (FKUB). Sociologically, these maneuvers successfully mitigate primordial prejudice through intense cultural interactions. However, this study also finds that inclusion built upon philanthropic schemes leaves an asymmetrical class power relation, risking becoming a "pseudo-inclusion" if unaccompanied by equality advocacy in public policy. This article concludes that amidst the threat of identity politics polarization, Walubi's Engaged Buddhism movement is challenged to evolve from a mere crisis-mitigation instrument into a sustainable agent of multicultural citizenship literacy.</p> <p>Artikel ini mengkaji transformasi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dari entitas representatif-birokratis menjadi aktor penggerak gerakan sosial keagamaan melalui praksis <em>Engaged Buddhism</em>. Dengan menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) yang mengadaptasi protokol PRISMA, penelitian ini mensintesis literatur akademik terbitan 2005-2026 untuk membedah manuver sosial Walubi di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Walubi dalam membangun masyarakat inklusif di Indonesia bermanifestasi dalam tiga tipologi gerakan: (1) filantropi kesehatan lintas batas yang secara efektif mendekonstruksi stereotip eksklusivitas minoritas; (2) mobilisasi tanggap darurat bencana yang memanfaatkan fase liminalitas untuk merajut solidaritas komunal; serta (3) diplomasi struktural nirkekerasan di dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Secara sosiologis, manuver ini berhasil meredam prasangka primordial melalui interaksi kultural yang intens. Namun, kajian ini juga menemukan bahwa inklusi yang dibangun melalui skema filantropi masih menyisakan ketimpangan relasi kuasa kelas, yang berisiko menjadi "inklusi semu" jika tidak dibarengi advokasi kesetaraan di ranah kebijakan publik. Artikel ini menyimpulkan bahwa di tengah ancaman polarisasi politik identitas, gerakan <em>Engaged Buddhism</em> Walubi dituntut untuk berevolusi dari sekadar instrumen peredam konflik krisis menjadi agen literasi kewarganegaraan multikultural yang berkelanjutan.</p> Indra harahap Alda Malik Fadillah Anya Dwi Aprillia Putri Zahra Mh Farhan Fika Fahriza Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2026-03-05 2026-03-05 10 1 747 770 Peran Kepemimpinan Kyai dalam Meningkatkan Efektivitas Pendidikan Era Modern Pesantren https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8638 <p><em>This article aims to analyze the role of kyai leadership in reforming the pesantren education system to make it more adaptive to the challenges of the modern era. The kyai functions not only as a spiritual guide but also as an educational leader responsible for curriculum direction, innovation, and institutional management. This study adopts a literature review method by analyzing relevant journals and academic literature from the last five years. The findings indicate that kyai who apply transformational leadership styles can integrate Islamic values with modern demands, such as comprehensive curriculum design, digital technology utilization, and character building. These efforts contribute to making pesantren education more adaptive, competitive, and relevant to current societal needs.</em></p> <p>Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kyai dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren agar lebih adaptif terhadap tantangan era modern. Kyai tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai manajer pendidikan yang menentukan arah kebijakan, kurikulum, dan inovasi pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka terhadap literatur dan jurnal ilmiah lima tahun terakhir. Hasil studi menunjukkan bahwa kyai yang menerapkan gaya kepemimpinan transformasional mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan tuntutan zaman, seperti penguatan kurikulum terpadu, pemanfaatan teknologi digital, dan pengembangan karakter santri. Perubahan ini berdampak pada peningkatan mutu pendidikan pesantren yang lebih adaptif, kompetitif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.</p> Munawir Anisa Qurrotul A’yun Aliffiyaa Jihan Qiyamullaily Moh. Fiqih Mujakki Rissa Rifqotus Sa'diyah Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan 2026-03-05 2026-03-05 10 1 1 24