Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman <p>Budaya atau kebudayaan memiliki&nbsp; tiga wujud; yaitu wujud ideal, kelakuan dan&nbsp; wujud benda, wujud ketiga tersebut disebut peradaban atau wujud materialperadaban manusia. peradaban adalah wujud kebudayaan yang sudah&nbsp; berkembang dan maju. pendapat lain menyebutkan bahwa kebudayaan adalah&nbsp; sesuatu yang bersifat ideal yang dapat bercita-cita, rencana atau bahkan keinginan. sedangkan peradaban adalah apa&nbsp; yang dapat dilakukan dari&nbsp; apa yang telah dicita-citakan. <em><strong>(</strong></em><em><strong>STID Raudlatul Iman Sumenep Madura</strong></em><em><strong>)</strong></em></p> en-US <p><a href="http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/management/settings/journal">Al-Iman</a>: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan (ISSN : <a href="http://issn.lipi.go.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>2549-9157</strong></a>xx) dan (EISSN: <a href="http://issn.lipi.go.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong> 2579-3543</strong></a>xx) diterbitkan oleh Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) STID Raudlatul Iman (STIDAR) Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman Sumenep Madura. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Kajian Dakwah, Interaksi sosial. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Maret dan september</p> jurnalaliman@gmail.com (Ainul Yaqin,) khamsillaili@gmail.com (khamsil laili, M.Pd) Tue, 28 Apr 2026 01:22:30 +0000 OJS 3.2.1.3 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Evolusi Gerakan Sosial Keagamaan: Studi Kepustakaan Tentang Kontribusi Walubi dalam Pembangunan Masyarakat Inklusif https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8637 <p>This article examines the transformation of the Indonesian Buddhist Community Representative (Walubi) from a representative-bureaucratic entity into a socio-religious driving actor through the praxis of Engaged Buddhism. Utilizing a Systematic Literature Review (SLR) method that adapts the PRISMA protocol, this research synthesizes academic literature published from 2005 to 2026 to dissect Walubi's social maneuvers in the public sphere. The results indicate that Walubi's contribution to building an inclusive society in Indonesia manifests in three movement typologies: (1) cross-boundary health philanthropy that effectively deconstructs stereotypes of minority exclusivity; (2) disaster emergency response mobilization utilizing the liminality phase to weave communal solidarity; and (3) nonviolent structural diplomacy within the Religious Harmony Forum (FKUB). Sociologically, these maneuvers successfully mitigate primordial prejudice through intense cultural interactions. However, this study also finds that inclusion built upon philanthropic schemes leaves an asymmetrical class power relation, risking becoming a "pseudo-inclusion" if unaccompanied by equality advocacy in public policy. This article concludes that amidst the threat of identity politics polarization, Walubi's Engaged Buddhism movement is challenged to evolve from a mere crisis-mitigation instrument into a sustainable agent of multicultural citizenship literacy.</p> <p>Artikel ini mengkaji transformasi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dari entitas representatif-birokratis menjadi aktor penggerak gerakan sosial keagamaan melalui praksis <em>Engaged Buddhism</em>. Dengan menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) yang mengadaptasi protokol PRISMA, penelitian ini mensintesis literatur akademik terbitan 2005-2026 untuk membedah manuver sosial Walubi di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Walubi dalam membangun masyarakat inklusif di Indonesia bermanifestasi dalam tiga tipologi gerakan: (1) filantropi kesehatan lintas batas yang secara efektif mendekonstruksi stereotip eksklusivitas minoritas; (2) mobilisasi tanggap darurat bencana yang memanfaatkan fase liminalitas untuk merajut solidaritas komunal; serta (3) diplomasi struktural nirkekerasan di dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Secara sosiologis, manuver ini berhasil meredam prasangka primordial melalui interaksi kultural yang intens. Namun, kajian ini juga menemukan bahwa inklusi yang dibangun melalui skema filantropi masih menyisakan ketimpangan relasi kuasa kelas, yang berisiko menjadi "inklusi semu" jika tidak dibarengi advokasi kesetaraan di ranah kebijakan publik. Artikel ini menyimpulkan bahwa di tengah ancaman polarisasi politik identitas, gerakan <em>Engaged Buddhism</em> Walubi dituntut untuk berevolusi dari sekadar instrumen peredam konflik krisis menjadi agen literasi kewarganegaraan multikultural yang berkelanjutan.</p> Indra harahap, Alda Malik Fadillah, Anya Dwi Aprillia, Putri Zahra, Mh Farhan, Fika Fahriza Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8637 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pembelajaran Lapangan: Studi Pengalaman Mahasiswa pada Pameran Matakin di Medan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8636 <p><em>This study aims to analyze the internalization of religious moderation values through field-based learning at an exhibition organized by the Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATakin) in Medan. The research employs a qualitative descriptive-reflective approach within a constructivist paradigm. The subjects consisted of six student interns who participated in the visit and interfaith dialogue with the Chairperson of MATakin Medan. Data were collected through participant observation, students’ reflective notes, documentation, and analysis of open dialogue sessions. The findings reveal that field-based learning effectively fosters both cognitive and affective transformation among students. Direct experience and dialogical interaction contributed to the reduction of stereotypes, enhancement of empathy, and strengthening of national commitment. The values of humanity and social harmony in Confucian teachings served as reflective bridges that deepened students’ understanding of religious moderation. These results indicate that the internalization of moderation values cannot rely solely on normative classroom instruction but requires contextual and dialogical engagement. Therefore, interfaith field learning may serve as a pedagogical model in higher education to reinforce social resilience and cultivate moderate character within plural societies.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis proses internalisasi nilai moderasi beragama melalui pembelajaran lapangan pada pameran yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATakin) Kota Medan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-reflektif dengan paradigma konstruktivis. Subjek penelitian terdiri atas enam mahasiswa peserta magang yang mengikuti kunjungan dan dialog lintas iman bersama Ketua MATakin Medan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan reflektif mahasiswa, dokumentasi kegiatan, serta analisis dialog terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran lapangan efektif dalam membangun transformasi kognitif dan afektif mahasiswa. Pengalaman konkret dan dialog langsung berkontribusi pada reduksi stereotip, peningkatan empati, serta penguatan komitmen kebangsaan. Nilai kemanusiaan dan harmoni dalam ajaran Konghucu menjadi medium reflektif yang memperkaya pemahaman mahasiswa tentang moderasi beragama. Temuan ini menegaskan bahwa internalisasi nilai tidak cukup melalui pendekatan normatif di kelas, melainkan memerlukan pengalaman dialogis yang kontekstual. Dengan demikian, pembelajaran lapangan berbasis dialog lintas iman dapat direkomendasikan sebagai model pedagogis dalam pendidikan tinggi untuk memperkuat ketahanan sosial dan membangun karakter moderat di tengah masyarakat plural.</p> Muhammad hazil Ali Kahar, Husna Sari, Ilham Ramadhan Daulay, Muhammad Fadly Chaniago, Gus Salza Nazwa, Wiana Delviani, Siti Rahma Copyright (c) 2026 Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/8636 Tue, 28 Apr 2026 00:00:00 +0000