Genealogi dan Dinamika Tafsir Al-Qur’an di Nusantara: Dari Abad Ke-17 Hingga Era KontemporerGenealogi dan Dinamika Tafsir Al-Qur’an di Nusantara: Dari Abad Ke-17 Hingga Era Kontemporer

Penulis

  • Muh.Suwandi Halim

Kata Kunci:

Sejarah Tafsir, Nusantara, Vernakularisasi, Tafsir Bugis, Aksara Lontara

Abstrak

This article examines the history and dynamics of Qur’anic exegesis (tafsir) in the Malay Archipelago (Nusantara), spanning from the 17th century to the contemporary era. It traces the genealogy of exegetes, starting with classical figures like ‘Abd al-Ra’uf Singkel and Nawawi al-Bantani, extending to modern scholars such as Hasbi Ash-Shiddieqy and Quraish Shihab. A specific focus is placed on the phenomenon of vernacularization—the process of interpreting the Qur’an into local languages—with particular emphasis on the Bugis tafsir tradition in South Sulawesi. Using a historical-sociological approach, this paper elucidates how Bugis scholars, from KH. Muhammad As‘ad to the South Sulawesi MUI team, utilized Lontara script and the Bugis language as instruments of cultural da’wah. The findings indicate that the writing of local tafsir was driven by three main motives: scholarly responsibility (warasat al-anbiya), the need to provide practical understanding for laypeople, and the preservation of regional linguistic identity. Furthermore, the study reveals an evolution in Bugis tafsir methodology from a global (ijmali) style to a more analytical (tahlili) and rational approach, reflecting a harmonious dialogue between the authority of the sacred text and local cultural wisdom. Artikel ini mengkaji sejarah dan dinamika perkembangan tafsir Al-Qur’an di Nusantara, mulai dari abad ke-17 hingga era kontemporer. Penelitian ini menelusuri genealogi mufasir, diawali oleh tokoh klasik seperti ‘Abd al-Ra’uf Singkel dan Nawawi al-Bantani, berlanjut ke mufasir modern seperti Hasbi Ash-Shiddieqy dan Quraish Shihab. Fokus spesifik tulisan ini menyoroti fenomena vernakularisasi, yakni proses pembahasaan Al-Qur’an ke dalam bahasa lokal, dengan penekanan khusus pada tradisi tafsir Bugis di Sulawesi Selatan. Melalui pendekatan historis-sosiologis, tulisan ini menguraikan bagaimana ulama Bugis, mulai dari KH. Muhammad As‘ad hingga tim MUI Sulsel, memanfaatkan aksara Lontara dan bahasa Bugis sebagai instrumen dakwah kultural. Temuan studi ini menunjukkan bahwa penulisan tafsir lokal didorong oleh tiga motif utama: tanggung jawab keulamaan (warasat al-anbiya), kebutuhan menghadirkan pemahaman praktis bagi masyarakat awam, dan upaya pelestarian identitas bahasa daerah. Selain itu, terungkap adanya evolusi metodologi tafsir Bugis dari corak ijmali (global) menuju pendekatan yang lebih analitis (tahlili) dan rasional, yang merefleksikan dialog harmonis antara otoritas teks suci dan kearifan budaya lokal.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2026-03-05

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

Obs.: Plugin ini minimal membutuhkan satu plugin statistik/laporan aktif. Jika plugin statistik menghasilkan lebih dari satu metrik, pilihlah metrik utama pada pengaturan halaman admin dan/atau pada halaman pengaturan manajer jurnal.