Current Issue

Vol 10 No 1 (2018): Pemikiran dan Pendidikan Islam
cover
Pentingnya Memperkaya Perspektif “If all you have is a hammer, everything looks like a nail” adalah sebuah pribahasa terkenal yang artinya kurang lebih: jika hanya palu yang kau punya, maka segala yang kau lihat akan nampak seperti paku. Demikian pribahasa seorang filsuf mazhab Frankfurt, Jerman, Herbert Marcuse. Sesungguhnya Marcuse ingin menyadarkan kita tentang salah satu kelucuan manusia modern yang cenderung merasa cukup hanya dengan satu perspektif, satu palu. Segalanya akan kita ukur lalu putuskan tindakan-tindakan yang akan kita lakukan hanya berdasarkan perspektif tunggal itu. Yang ahli fiqh melulu melihat realitas dari perspektif fiqh, pakar hadits membatasi realitas dari sudut pandang ilmu hadits, begitupun ahli tafsir, sarjana pendidikan, pakar politik, ahli ekonomi, dll. Lebih miris lagi, ketika terminologi ulama yang mestinya dinisbatkan pada orang yang kaya perspektif, saat ini justeru disempitkan pada orang-orang yang hanya hafal satu dua ayat dan hadits plus suka memakai atribut-atribut Timur Tengah. Jurnal Tafhim al-‘Ilmi kali ini hadir dalam rangka menyoroti problem sosial kemasyarakatan dari berbagai perspektif. Guna memperkaya cara pandang masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena kontemporer yang terjadi. Kajian pertama diawali dengan analisis tentang konsep modernitas dalam dinamika pemikiran. Modernitas adalah fenomena historis dan selalu menarik untuk didiskusikan, karena berkaitan dengan masa lalu, masa kini dan masa depan. Karya ini hendak menelusuri karakteristik modernitas dalam evolusi pemikiran. Kemunculan modernitas sejak abad ke-16 dicirikan oleh ide-ide filosofis yang berbeda dari periode sebelumnya yang alasannya memiliki posisi tinggi dan menghindari ketergantungan terhadap agama. Ciri-ciri manusia modern sejak saat itu adalah mereka yang mampu berpikir tentang dirinya secara ilmiah dan rasional. Sesuatu di luar nalar dan fisik adalah mitos dan fantasi. Sedangkan modernitas dalam pemikiran Islam kontemporer terkait dengan kebangkitan intelektual Islam, yaitu merumuskan kembali perspektif umat Islam terhadap ajaran utama Islam dan menghilangkan taklid dan ekstrim. Disusul karya Achmad Bahrur Rozi yang mengangkat gagasan filsuf asal Austria Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889) tentang permainan bahasa sebagai kerangka dalam menganalisis kekerasan dalam bahasa agama. Dalam konteks bahasa agama, bahwa satu bahasa yang sama dari bahasa agama dipakai tidak hanya untuk satu tujuan saja. Ini artinya bahwa pernyataan-pernyataan agama tidakmendapatkan maknanya dengan satu cara saja, tetapi bisa menggambarkan beberapa relaitas menurut aturan main si pemakainya. Makna sebuah kata dari sudut pandang ini tidak lagi bisa diukur pada satuan kata yang membentuknya, tapi menunjuk pada makna penggunaannya. Untuk itu, sebagai akademisi, kita harus bisa menganalisis setiap penggunaan bahasa oleh kelompok-kelompok tertentu menurut aturan main yang mereka sepakati. Muhammad Amin menyoroti pendidikan Islam di era Rasulullah dikenal sebagai pendidikan Islam yang ideal walaupun dilaksanakan dalam keadaan serba keterbatasan. Pendidikan Islam era rasulullah telah terbukti berhasil melahirkan generasi emas dalam dunia Islam. Hal itu berbanding terbalik dengan pendidikan Islam kekinian yang dengan berbagai fasilitas dan media pembelajaran yang memadai justru melahirkan produk-produk yang mencoreng dunia Islam itu sendiri. Tulisan ini bertujuan untuk merefleksikan pendidikan era rasulullah untuk memperbaiki keadaan dunia pendidikan Islam kekinian, mulai dari lembaga pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan sampai pada materi pendidikan Islam. Dengan harapan dapat meminimalisir tindakan korupsi dan dekadensi moral yang dilakukan oleh oknum yang merupakan alumni lembaga pendidikan Islam dan dapat mengangkat kembali marwah pendidikan Islam pada posisi yang seharusnya dan selayaknya sebagaimana yang dicita-citakan rasulullah. Berikutnya Musleh Wahid berusaha mencari solusi terhadap penjenjangan pendidikan. Penjenjangan dalam tulisan ini haruslah didasarkan pada apa saja yang harus dibentukkan pada anak didik, perlu melakukan perhitungan secara seksana dengan melakukan eksperimen yang matang untuk menemukan fakta-fakta kebenaran baru dalam rangka meninjau kembali penjenjangan tingkat pendidikan yang selama ini dipedomani. Seharusnya prinsip dan nilai pendidikan Islam kembali ke sumber aslinya. Yaitu: Qur’an, Hadis, Ijtihad Ulama, Fuqaha dan Mujahidin. Dengan hal ini semua, dunia pendidikan tidak akan keluar dari rel-rel dan nilai-nilai yang sudah digariskan. Sri Wahyuni membahas interferensi bahasa Madura dalam bahasa Arab. Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan tentang interferensi gramatikal yang ditemukan dalam percakapan bahasa Arab santri anggota Syu’bah al-Lughah al-‘Arabiyah. Data terdiri dari kata, frasa, klausa dan kalimat yang mengandung interferensi. Ada 8 contoh dikumpulkan sebagai data yang dianalisis menggunakan kerangka analisis kesalahan presfektif soiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan ada empat jenis interferensigramatikal: yang berupa kata, frasa, klausa dan kalimat. Faktor yang berkontribusi pada interferensi gramatikal ini adalah bilingualitas seorang penutur dan kecendrungan mentransfer perilaku linguistik yang lama pada perilaku baru (dari bahasa Madura ke bahasa Arab). Pada dasarnya ini semua karena dikarenakan oleh penutur terhadap gramatikal bahasa Arab. Ediyanto mengkaji pendidikan akhlak dipandang sebagai bagian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan akhlak dinilai sebagai langkah awal dalam mengarahkan anak didik ke jalan yang lebih baik. Penilaian ini sangat realistis, mengingat kondisi pelajar dewasa ini semakin memprihatinkan. Meskipun berada di dalam lingkungan lembaga pendidikan, namun anak didik lebih suka menjadi oknum yang tidak terdidik. Sebagian dari mereka terjebak dalam berbagai kejahatan sosial. Mulai dari tindak pidana, kriminal dan kejahatan lainnya. Kondisi yang memprihatinkan ini menjadi bahan renungan bagi semuapihak lebih-lebih para praktisi pendidikan. Para pemerhati praktisi pendidikan menganggap penting dalam mencari jalan alternatif untuk membenahi kondisi pendidikan ini. Ada arah dan misi pendidikan yang tercerabut akibat godaan zaman. Maka, pendidikan moral atau akhlak di saat situasi seperti ini dianggap akan menjadi jawan persoalan ini.Berikutnya adalah kajian tentang zakat sebagai salah satu kewajiban Islam dan salah satu dari lima pilar utamanya. Nabi Muhammad saw mengatakan: “Islam adalah salah satu pilar dari lima pilar dalam Islam: untuk menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah pelayan dan utusan-Nya, melakukan sholat, memberikan sedekah (Zakat), menunaikan ibadah haji, dan berpuasabulan Ramadan. “(Sahih al-Bukhari). Safradji dalam tulisan ini mengulas secara tuntas manfaat-manfaat zakat, sebagai berikut: 1. Menunaikan perintah Allah SWT, untuk mendapatkan kerelaan-Nya, serta untuk mengarahkan ke surga-Nya di akhirat kelak. Sebagai kewajiban, maka membayar zakat adalah jenis ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. 2. Memurnikan hati dari cinta material. 3. Melindungi masyarakat dari kejahatan karena orang miskin akan puas dengan apa yang orang kaya tunaikan kepada mereka. 4. Menyatukan masyarakat di mana orang miskin bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang kaya,begitu juga sebaliknya. Dua karya berikutnya dalam bentuk artikel berhasa Arab. Moh. Anwar menganalisis pemikiran dan usaha KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madura, mendeskripsikan dan menganalisis metode yang digunakan oleh KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madura. Penulis mengemukakan beberapa temuan tentang pemikiran, usaha dan metode KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab, seperti mendirikan markas pengembangan bahasa Arab di beberapa pondok pesantren di Madura, Mendirikan pondok pesantren sendiri yang khusus dalam pengembangan Bahasa Arab dan Kajian–Kajian Ke-Islaman, mengajar Bahasa Arab diberbagai Pondok-Pesantren dan Perguruan Tinggi di Madura. Adapun Pemikiran KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab adalah, bahwa pemikiran beliau merupakan pemikiran yang orisinil dan sesuai dengan pandangan teori-teori pembelajaran modern terutama teori pembelajaran behaviourisme yang menekankan pada aspek eksternal pembelajar dan teori pembelajaran kognitifisme yangmenekankan pada aspek internal siswa (3) Metode yang diterapkan KH. A. Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab sangat sesuai dengan metode-metode pembelajaran Bahasa Arab yang populer dan terdapat dalam buku-buku metode pembelajaran yang ditulis oleh para pakar metodepembelajaran Bahasa Arab. Sementara Uswatul Jannah mengetengahkan Nilai-nilai Sufistik dalam Qasidah “Aghibu” Karya Syaikh Abdurrahim bin Muhammad Waqi’ullah Al-Bar’i Al-Yamani ini berangkat dari sebuah kegelisahan akademis dan keganjilan tentang satu qasidah berjudul Aghibu yang terkenal dan sering diputar di berbagai masjid di Surabaya, namun para penikmatnya justru tidak paham dan mengerti maknanya, apalagi untukmengenal penyairnya sendiri. Masyarakat di lingkungan tersebut lebih mengenal munsyidnya yaitu Misyari Rasyid Al-Afasy dan kelompok thariqah Naqsyabandi. Berbagai persoalan tersebut mengantarkan Peneliti untukmengkaji lebih lanjut tentang qasidah Aghibu dimulai dari tema apa saja yang diusung di dalamnya, serta menguak berbagai pesan dan nilai-nilai sufistik yang terkandung pada qasidah tersebut. Sastra sufi adalah bagian dari seni murni yang berkenaan dengan transedental dan masalah-masalah ketuhanan, sehingga ia bersumber pada realitas kehidupan yang tidak dapat dijelaskan melalui pemahaman logicrasional (‘amrul ghaib). Selaras dengan qasidah Aghibu yang sarat dengan makna ketuhanan dan merupakan representasi dari realitas kehidupan sufisme. Tema besar yang diangkat Aghibu adalah penghambaan murni pada Allah SWT. dan menjadikan Dia sebagai pusat segala tindakan. Maka dari itu qasidah ini mengandung nilai-nilai sufistik yang harus dilalui seorang salik dalam melatih sensitifitas ruhani melalui sikap (a) khauf dan roja’; (b) syukur, (c) taubat; (d) muraqabah, (e) dawamus shalah, (f)husnuddzan billah: (g) dzikrullah; dan (h) mahabbah.Akhirnya, redaksi mengucapkan selamat menikmati tulisan-tulisan para pakar dalam bidangnya dalam jurnal Tafhim al-‘Ilmi kali ini
Published: 2018-10-30
View All Issues